
PETIR YANG MENYELAMATKAN JIWA
PETIR YANG MENYELAMATKAN JIWA
Dalam pelayanan di ladang penginjilan di Sumatra Tapanuli Utara, tepatnya di Desa Sipultak dan Sibaragas, saya belajar bahwa penginjilan bukan hanya tentang menyampaikan firman Tuhan, tetapi tentang menghadirkan kasih Tuhan melalui kehidupan nyata. Saya belajar untuk berbaur dengan masyarakat, hadir di tengah-tengah mereka, membantu dalam pekerjaan sehari-hari, dan membangun hubungan yang baik dan tulus. Dari situlah saya melihat bahwa Injil tidak hanya didengar melalui kata-kata, tetapi dirasakan melalui tindakan kasih yang berasal dari Tuhan.
Saya melayani di Desa Sibaragas ladang penginjilan kedua kurang lebih selama satu minggu. Setelah itu, saya sempat berencana untuk kembali ke ladang penginjilan pertama, yaitu di Desa Sipultak. Namun, saat hendak pulang, saya merasakan sesuatu yang kurang nyaman di dalam hati saya. Ada kegelisahan dan ketidaktenangan yang sulit dijelaskan. Saya percaya bahwa itu adalah suara Roh Kudus yang mengingatkan saya untuk tidak pulang saat itu.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menunda kepulangan saya dan tetap tinggal di Desa Sibaragas, tempat pelayanan saya yang kedua. Tidak lama kemudian, hujan deras turun tanpa henti. Akhirnya saya tinggal di sana selama kurang lebih dua hari. Setelah dua hari berlalu dan keadaan mulai membaik, saya akhirnya memutuskan untuk pulang di Desa Sipultak ladang penginjilan pertama. Namun, betapa terkejutnya saya ketika sampai di rumah. Saya melihat bahwa rumah saya telah disambar petir. Colokan listrik terbakar, pohon di depan rumah hangus, bahkan sebagian tembok rumah mengalami kerusakan. Di saat itulah saya menyadari bahwa Tuhan tidak membiarkan saya terkena bencana yang Dimana akan menghambat pelayanan dan Tuhan yang sama juga telah melindungi saya. Dua hari sebelumnya, ketika saya hendak pulang, hati saya tidak tenang. Kini saya mengerti bahwa itu adalah peringatan dari Roh Kudus agar saya tidak pulang pada waktu itu. Jika saya tetap pulang saat itu, mungkin saya akan berada dalam bahaya besar.
Melalui pengalaman ini, saya belajar untuk lebih peka terhadap suara Tuhan dalam hidup saya. Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri untuk menjaga dan menuntun setiap langkah kita. Puji Tuhan, di balik peristiwa tersebut, saya juga melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa. Dalam KKR di Desa Sibaragas ladang penginjilan ke dua satu jiwa dimenangkan dan dibaptis. Hal itu menjadi sukacita besar dan penguatan bagi saya bahwa Tuhan selalu menyertai setiap pelayanan yang dilakukan dengan setia.
MAZMUR 121:2 “ Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.”
